Kamis, 16 Januari 2014

Puisi 2

Martir Takdir

Apakah  matahari besok masih membawa semangat dan harapan?
Apakah sinar bulan bulan besok masih memancarkan keramahannya?
Seperti jalan panjang inferno dante dan virgil
Begitulah masa depan

Akankah masa depanku akan datang?
Masa depan yang aku harap akan sama dengan kumpulan rencan buatan tangan
Masa depan yang kita tidak tahu kan seperti apa
Berharap waktu akan mempercepat segala prosesnya

Kadangkala harapan tidak pernah sinkron dengan kenyataan
Tapi kita manusia dilahirkan untuk menentang takdir
Kapan pemahaman pernah menang dari mekanisme penyangkalan?
Harapan berlandaskan pada kepercayaan itu, bernama cinta

Hakikat  cinta dan masa depan siapa yang tahu?
Wahai takdir persiapkan dirimu
Darah ini kan kuteteskan dibumi tuk menentangmu
Biarkan aku jadi martir seperti ikarus dan promoteus

Dengan alunan musik simple plan feat taka one ok rock – summer paradise, kutulis puisi ini masih untuk 
SJ

Denpasar, 17 Januari 2014 : 01.13 WITA

Tulisan Pendek 1

Hahahaha…

Kubuka tulisan pertamaku ini dengan kata yang terdiri dari Huruf H dan A digabung dan diulang sebanyak 4 kali. Huruf H adalah huruf ke 8 dalam keluarga ABJAD sedangkan huruf adalah huruf pertama. Hahahaha.. kok aku jadi nulis hal gag penting gini? Gag tau dah, otak lagi bingung. Emang iri hati itu bisa bikin pikiran absurb yaaa? Waah jadi teori baru nih.

Oke, saya akan mulai menelurkan sebuah teori yang berkaitan dengan iri hati (dalam hal ini subjeknya iri hati dalam dunia percintaan dan efeknya pada kinerja berfikir jernih otak). Teori ini baru saja saya buktikan dengan sebuah eksperimen sederhana. Pertama saya pelototin foto S.J (cewek idamanku) bersama pacarnya selama kira-kira 198 detik. Kedua merenung sejenak selama kurang lebih 1 menit. Ketiga tunggu sebentar lalu mulai menulis. Hasilnya? Hasilnya? Apaaaa? Iya, saya pun gag tau! Ya ini hasilnya, tulisan ini. oke, karena efek iri hati sudah mulai merambat mempengaruhi alat pernapasan saya, sudahi saja tulisan ini untuk sekarang. oke, doakan saya cepat sembuh. EXIT

Ditulis 2 hari setelah ketemu kamu.

Rabu, 15 Januari 2014

Tes Bikin Puisi #1

Fiksi, Jadilah Kau Nyata
Teringat peralihan dunia tadi siang
Lucu, ketika bidadari dalam bayangmu kau lihat nyata
Nyata, tapi tidak.. terhenti dipersimpangan kenyataan dan khayalan
Berfikir dalam perspektif dunia fiksi

Alunan simfoni bertabrakan dengan distorsi
Seperti batas demarkasi imajinasi dan realitas yang tidak bisa melebur
Masih tetap terhenti dipersimpangan kenyataan dan khayalan
Apakah kamu nyata? Apakah aku nyata buatmu?

Waktu adalah dewa penentu segalanya
Sepeti Kronos yang merubah ketiadaan menjadi ada
Yang kubutuhkan saat ini adalah dukungan Sang Waktu
Maka terhapuslah batas imajinasi dan realitas

Kotak Pandora pun menipu musafir dunia dengan angan-angan fiksi dikepala
Menculikmu dari Tartarus penjara fiksi dan jadilah kau nyata
Menarilah bersamaku dibawah sinar bulan purnama, seperti malam ini
Kepada Sang Arsitek Agung, aku mohon kekuatanMu

Bait-bait ini kepersembahkan kepada bidadari tidak dikenal yang rela mematahkan sayapnya dan turun kebumi hanya untuk lewat didepanku selama sepersekian detik yang membekas dalam hidupku untuk selamanya. Apakah kau nyata buatku? Apakah aku nyata buatmu, Fallen Angel?  
S.J

Kamar nomer 2 Markas Morotai 4, 01.53 WITA, 16  Januari 2014

mohon masukannya, pertama bikin soalnya! hehehe

Perlunya Penerapan Hukum Dialektika dalam Pola Berfikir Mahasiswa

Perlunya Penerapan Hukum Dialektika dalam Pola Berfikir Mahasiswa
Dialektis atau Dialektika adalah cara pandang sesuatu dalam proses geraknya bukan pada keadaan diamnya. Perbedaan mendasar perbedaan antara logika dan dialektika yaitu jika dalam logika A sama dengan A dan A bukan sama dengan non A, jika dialektika A sama dengan A dan A itu boleh non A. Salah satu hal yang tidak bisa dijelaskan dalam berfikir logika adalah waktu, karna waktu selalu bergerak. Ketika muncul pertanyaan apakah Einstein itu pintar? Jika kita menjawab dengan kerangka logika kita akan menjawab iya, tetapi jika kita memperhitungkan waktu maka kita bisa menjawab bisa iya bisa tidak, mengapa demikian, karna pada saat Einstein kecil dia dikatakan bodoh oleh semua orang, sedangkan ketika dia dewasa dia pintar. Maka dari pertanyaan diatas dapat dilihat jika tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan logika. Dapat disimpulkan bahwa dialektika adalah cara berpikir gerak benda.
Dalam dialektika terdapat 3 hukum dasar yaitu:
a.       Perubahan dari kuantitas menjadi kualitas
b.      Adanya kutub berlawanan yang saling merasuki
c.       Negasi dari Negasi (Tesis – AntiTesis = Sintesis = Tesis – AntiTesis = Sintesis)
Contoh hukum pertama dialektika, ketika dalam satu kelompok belajar mahasiswa memiliki 5 orang anggota dan mereka mengerjakan tugas kelompok selalu mendapatkan nilai C, ketika mereka menambah 2 anggota lagi dan menjadi 7 anggota tetap tidak terjadi perubahan pada nilai mereka, lalu kelompok belajar mahasiswa itu bertambah dalam hal ini bertambah 2 orang yang sangat cerdas dan rajin yang merubah kuantitas mereka menjadi 9 anggota, tugas kelompok mereka berikutnya menjadi A. Jika ditarik kesimpulan maka perubahan itu tidak selalu garis lurus tetapi dalam beberapa hal penambahan kuantitas dapat mempengaruhi pola perubahan yang semula garis lurus menjadi mengalami lompatan yang signifikan atau bisa dikatakan sebagai revolusi.
Contoh hukum kedua dialektika adalah ketika abad kegelapan eropa manusia berfikir bahwa matahari berputar mengitari bumi, itu adalah pemikiran umum yang dipercayai oleh mayoritas masyarakat eropa pada saat itu. Tetapi ada seseorang yang bernama Copernicus mengatakan bahwa bumi berputar mengitari matahari, dan notabenenya pemikiran dia sangat berlawanan dengan pemikiran mayoritas saat masyarakat saat itu. Gagasan Copernicus menimbulkan perdebatan panjang yang pada akhirnya menemukan hasil bahwa bumi berputar mengitari matahari dan gagasan itu menjadi pemikiran baru yang diikuti oleh masyarakat eropa sampai saat ini. Jadi revolusi pemikiran tidak akan terjadi tanpa adanya pemikiran baru (kontradiksi) yang akan merasuki pemikiran lama kita.
 Contoh hukum ketiga dialektika adalah pertumbuhan siklus padi, dimana dari biji terus menjadi padi kecil lalu menjadi padi kembali lalu padi tersebut menghasilka biji padi. Biji tersebut lalu jatuh ketanah dan tumbuh menjadi padi kecil lagi. Sekilas memang terlihat tidak ada yang berubah dalam siklus pertumbuhan padi tersebut, padahal pada padi generasi kedua terjadi peningkatan kualitas biji padi itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karna adanya adaptasi dan kualitas kandungan mineral pada tanah yang bertambah. Dapat di rumuskan seperti biji padi (tesis) lalu di negasikan atau berubah menjadi padi dewasa (anti tesis) lalu menghasilkan padi kembali (sintesis) nanti akan di negasikan lagi. Jadi pola perkembangan ini meskipun terlihat terus ternegasi dengan kontradiksi-kontradiksi dan terlihat sama saja,  tetapi pada hakikatnya pola perkembangan ini mengalami penambahan sifat dan mengalami bentuk pola perkembangan yang terus dipertahankan pada saat yang sama.
                Pola berfikir dialektika ini harusnya dimiliki mahasiswa, karna jika melihat dari hukum pertama, dalam mencari ilmu dia akan mampu menerapkan istilah “one man revolution” atau dia akan menempatkan dirinya sebagai pelopor untuk merubah pola pandang teman-teman mahasiswa disekitarnya. Karna penambahan satu manusia saja mampu membawa perubahan pola pemikiran banyak manusia.  Hukum kedua, dia akan berfikir bahwa pentingnya kelompok diskusi yang akan saling menambah wawasan keilmuannya, karna dalam diskusi pasti akan ada yang menjadi kontradiksi. Lalu mereka akan belajar dan mengkaji ulang teori yang diberikan dari kampus dalam kelompok diskusi tersebut dan menciptakan teori baru. Hukum ketiga, dia akan berfikir bahwa diskusi-diskusi itu meskipun akan menghasilkan teori-teori yang kelihatannya sama saja, tetapi tiap-tiap teori itu mewarisi sifat-sifat dari anti-teori yang di hasilkan dari diskusi-diskusi sebelumnya. Jadi meskipun kelihatan tidak ada perubahan secara mendasar sebenarnya mengalami perubahan yang tidak terlihat. Contoh rumusnya A di negasikan dengan B akan menjadi A’ atau B’.
            Jadi intinya pola pemikiran dialektika adalah pola pemikiran yang akan membawa tiap-tiap individu untuk bersifat kritis yang akhirnya akan melakukan perubahan-perubahan disekitarnya. Jika kita hanya berfikir logika, kita tidak akan pernah menanyakan segala hal, karna A adalah A, bukan non A. Pola berfikir logika hanya akan menciptakan robot-robot baru bertubuh manusia yang akan menerima teori-teori yang didapatnya di kampus tanpa mengkaji ulang. Untuk menciptakan manusia-manusia yang berfikiran kritis, pola pemikiran ini mutlak harus dimiliki tiap-tiap mahasiswa, karna mahasiswa adalah individu-individu yang mampu berfikir kritis, untuk merubah arah bangsa ke jalan yang lebih baik.

Fiqri Muliathoha Tuanaya, Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Udayana 2012

Badan Eksekutif, Badan Legislatif dan Masyarakat Kampus

Badan Eksekutif, Badan Legislatif dan Masyarakat Kampus


Kampus seharusnya seperti miniatur negara, lengkap dengan mahasiswa sebagai rakyat. Mengacu pada konsep tersebut, maka dibentuklah organisasi tingkat universitas dan fakultas yang berperan sebagai lembaga eksekutif, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ditingkat universitas dan Senat Mahasiswa (SM) ditingkat fakultas. Peran fungsi BEM dan Senat selaku badan eksekutif kampus pun seharusnya sama dengan fungsi lembaga eksekutif nasional yaitu melaksanakan pemerintahan di ruang lingkup wewenangnya yang berlandaskan aspirasi rakyat yang sebelumnya ditampung di Badan Legislatif. Melihat dari pengertian diatas, peran lembaga legislatif dipaksa untuk selalu proaktif mencari tahu apa sebenarnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kampus, karena tanpa Badan Legislatif, Badan Eksekutif akan bekerja tanpa tahu arahnya dan mungkin akan menimbulkan gejolak saling tuding menuding di lingkungan masyarakat kampus. Badan Legislatif dalam ranah universitas dan Fakultas biasa disebut Badan Perwakilan Mahasiswa. Tetapi, Badan Legislatif tanpa mahasiswa sebagai masyarakat kampus adalah nonsense. Disini peran mahasiswa adalah sebagai pengawal kinerja Badan Eksekuti Mahasiswa yang nantinya seluruh aspirasinya akan diberikan pada Badan Legislatif untuk secepat mungkin diproses. Konektivitas tanpa putus antar Mahasiswa dan Badan Legislatif adalah hal yang mutlak diperlukan untuk mampu mewujudkan demokrasi secarah utuh. Jika nantinya peran Badan Legislatif Mahasiswa (BPM) dirasa mandul, mahasiswa harus mengambil peran aktif untuk mengawal jalannya proses demokrasi. Disinilah mindset mahasiswa yang terkesan apatis terhadap lingkungan disekitarnya, tidak terkecuali kampus harus dirubah. Tanpa adanya sikap kritis dan proaktif dalam diri mahasiswa sendiri, suatu proses demokrasi tidak akan terjadi. Jika peran control mahasiswa lemah maka, rasa ketidakpercayaan terhadap Badan Eksekutif akan terus terjadi dan Badan Eksekutif akan selalu tersudutkan. “The government is merely a servant―merely a temporary servant; it cannot be its prerogative to determine what is right and what is wrong, and decide who is a patriot and who isn't. Its function is to obey orders, not originate them.”  ― Mark Twain

Selamat Hari Kebangkitan Nasional


Selamat Hari Kebangkitan Nasional

Salah satu faktor yang mendorong munculnya pergerakan-pergerakan di Indonesia salah satunya dikarenakan diberlakukannya politik etis oleh pihak Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Tujuan dari politik etis sendiri adalah untuk mendapatkan tenaga pekerja terdidik yang murah, dengan cara memberikan pendidikan kepada kaum bangsawan atau priyayi. Mereka dibentuk untuk menjadi kuli tinta pada berbagai perusahaan swasta Belanda. Tetapi pendidikan saat itu bagaikan pisau bermata dua. Dengan semakin banyaknya kaum yang terpelajar, semakin banyak juga orang-orang yang mulai memahami realitas yang terjadi disekitarnya, terutama di bangsanya sendiri (Hindia Belanda). Kesempatan ini merupakan salah satu momentum yang menyadarkan kaum muda terpelajar dari penindasan yang terjadi di Nusantara. Hal ini mengakibatkan terbentuknya banyak perkumpulan yang dimotori oleh kaum terpelajar dan membuka mata mereka pada saat itu tentang keadaan sebenarnya, bahwa mereka sedang dijajah dan ditindas. Selain itu perkumpulan-perkumpulan seperti ini juga menjadi cikal bakal embrio lahirnya kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan, meskipun pada awalnya banyak perkumpulan-perkumpulan yang berpatokan hanya sebatas pada faktor kesukuan, agama dan golongan. Tetapi ada beberapa perkumpulan yang mulai tumbuh dengan sifat-sifat nasionalisme di dalam dirinya, salah satunya adalah Boedi Oetomo.
Awal terbentuknya Boedi Oetomo adalah atas prakarsa Dr.Wahidin Sudiro Husodo yang seorang pensiunan dokter dan memiliki keresahan terhadap golongan priyayi yang dianggap terlalu terpesona dalam zona nyamannya dan enggan bergerak memperjuangkan rakyat yang terkesan nrimo (pasrah). Akhir tahun 1906, pensiunan dokter itu bertemu dengan sekumpulan anak muda di sekolah dokter Jawa–STOVIA dan diberi kesempatan menyampaikan gagasannya di forum “Demonstrasi Demokrasi”. Di Forum tersebut dia berhasil untuk menggugah semangat berorganisasi. Soetomo yang ketika itu berumur 19 tahun, langsung tergerak. Tepatnya tanggal 20 Mei 1908, ia dan teman-temannya di STOVIA mendirikan organisasi bernama “Boedi Oetomo”. Awalnya perkumpulan ini bersifat nasionalisme tetapi karna mayoritas anggotanya berasal dari suku yang homogen (sejenis) dan hanya diperuntukan bagi golongan priyayi terpelajar, lambat laun sifat nasionalisme itu akhirnya menghilang. Dengan menghilangnya sifat nasionalisme, mereka mulai memandang sebuah permasalahan dari sudut pandang mereka dan hanya berusaha menyelesaikan masalah yang memang menguntungkan bagi golongannya.
Ketidakpuasan masyarakat pada saat itu pada sistim politik etis yang hanya diperuntukan bagi golongan priyayi, menimbulkan keresahan bagi beberapa pemuda, salah satunya adalah Suwardi Suryaningrat atau yang biasa dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Setelah di selesai sekolah dan melihat keadaan saat itu, dia mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922. Taman Siswa adalah sebuah sekolah yang diperuntukan untuk golongan rakyat djelata, karena pada saat itu hanya golongan priyayi yang notabennya golongan bangsawan saja yang bisa bersekolah. Jadi dengan berdirinya Taman Siswa ini, Ki Hajar Dewantara berharap semakin banyak masyarakat yang berpendidikan, semakin banyak juga masyarakat yang berpikiran tentang Persatuan dan kemajuan Bangsa Indonesia. Dengan semakin banyaknya masyarakat  yang berpikiran tentang bangsa ini, maka akan semakin banyak pula masyarakat yang nantinya akan berpikiran kritis dan visioner. Mereka akan berusaha melakukan sesuatu dalam hal apapun yang memang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan tentunya keluar dari penindasan.
Pada awal tahun 1920-an, banyak perkumpulan-perkumpulan yang mengatasnamakan kesukuan, golongan dan agama yang mulai membesar massanya. Beberapa pemuda membaca masalah ini akan sangat merugikan jika tidak ditindak lanjuti. Maka atas inisiatif beberapa pemuda yang melihat problematika pada saat itu, timbulah sebuah wacana kembali tentang pentingnya sifat persatuan atau nasionalisme, lalu akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda. Karena dengan lahirnya persatuan, mereka memiliki tujuan arah yang sama tentang bagaimana membawa Bangsa Indonesia kedepannya, inilah awal pemikiran maju pemuda Indonesia.
Dengan persatuan yang menimbulkan pandangan lama (Nasionalisme) mengingatkan para pemuda untuk memiliki pemikiran kritis dan paham pentingnya kemerdekaan. Salah satu pemuda penggeraknya adalah Ir. Soekarno yang nantinya menjadi Sang Bapak Proklamator Indonesia. Bersama Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) mereka dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Saat akan diadili, dengan berani Soekarno membacakan sebuah pidato yang berjudul Indonesia Menggugat yang ia dibacakan dengan semangat yang membara dalam rangka pembacaan pembelaan/pledoi  di Landraad Bandung, pada tahun 1930. Pidato itu mulai membuka mata beberapa pemuda saat itu tentang pentingnya persatuan dan perlawanan. Meskipun dibawah tekanan dan intervensi yang sangat berat dari Pihak Kolonial Belanda, dia tetap memperjuangkan hak-hak masyarakat Indonesia. Hingga akhirnya usaha Soekarno tidak sia-sia dengan merdekanya Indonesia pada tahun 1945.
Dilihat dari uraian diatas, peran pemuda khususnya mahasiswa menjadi sangat krusial dan penting. Para pemuda khususnya mahasiswa yang dahulu berperan aktif dan berinisiatif dalam merubah arah bangsa menjadi merdeka dan lepas dari penindasan kini terasa hilang taringnya. Realitas yang terjadi sekarang sangat jauh berbeda dengan jaman-jaman awal pergerakan bangsa. Mahasiswa saat ini terlena dengn dunianya saja tanpa melihat sedikitpun tentang situasi dan persoalan yang terjadi di masarakyat diluar sektor mahasiswa. Mengapa mahasiswa sekarang seakan lupa dengan jati dirinya, lupa akan perannya dan lupa akan fungsi mereka sebenarnya? Mereka jusru melibatkan diri mereka dalam organisasi atau perkumpulan yang bersifat suku, golongan dan agama. Padahal poin yang paling penting dalam mendasarii lahirnya kemerdekaan adalah persatuan. Terjadi pengulangan pola yang sama seperti saat jaman Boedi Oetomo dimana mereka masih saja berpikir melalui sudut pandang suku, golongan dan agama.
Selain itu, faktor mahasiswa yang dituntut untuk lulus 4 tahun juga menjadi salah satu penyebab mahasiswa mulai melupakan kepekaan pada lingkungan seperti pemuda jaman dulu. Mereka mulai terdoktrin agar secepatnya mendapatkan pekerjaan, mulai malas berpikir tentang keadaan disekitarnya, dan mengabaikan pentingnya pembentukan nilai-nilai kepekaan sosial dalam dirinya. Lagi-lagi terjadi pola pengulangan sejarah. Seperti keadaan saat pihak Kolonial Belanda memberlakukan sistem politik etis, dimana pendidikan hanyalah sebuah pintu masuk untuk mendapatkan pekerjaan sebagai bawahan di perusahaan Kolonial Belanda. Orientasi kuliah berubah bukan atas dasar mencari ilmu lagi tetapi mencari pekerjaan. Faktor diatas tersebut pada akhirnya berhasil membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang cenderung apatis terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya. Mahasiswa yang cenderung masuk zona nyaman mulai meninggalkan kepekaan dan jiwa kritis mereka terhadap keadaan disekitar mereka.

Apakah kita sebagai penggerak bangsa akan terus acuh tak acuh terhadap keadaan bangsa dan masyarakat disekitar kita, bahkan cenderung berpikir sempit.. Padahal keberanian Soekarno bersama teman-temannya yang tidak memikirkan diri sendiri ataupun golongan dan tetap memilih memperjuangkan masyarakat dan bangsa merupakan sebuah pola pikir yang harusnya dijadikan dasar pemikiran dan wajib dimiliki seorang mahasiswa sebagai golongan kaum yang katanya terdidik tapi justru saat ini mahasiswa hilang arah dan lepas kendali, mundur kebelakang menjadi kaum yang terisolasi dengan masarakyatnya. Jika kita tetap seperti ini, maka bagaimana arah bangsa kita kedepannya? Karena kaum perubah saat ini telah menjadi kaum yang terlena dan hilang dari masarakyatnya. Sebuah pertanyaan yang harus kita renungi bersama-sama. (diambil dari Selebaran Kelompok Belajar Mahasiswa FSB Udayana)