Selamat Hari Kebangkitan Nasional
Salah
satu faktor yang mendorong munculnya pergerakan-pergerakan di Indonesia salah
satunya dikarenakan diberlakukannya politik
etis oleh pihak Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Tujuan dari politik
etis sendiri adalah untuk mendapatkan tenaga pekerja terdidik yang murah,
dengan cara memberikan pendidikan kepada kaum bangsawan atau priyayi. Mereka
dibentuk untuk menjadi kuli tinta pada berbagai perusahaan swasta Belanda.
Tetapi pendidikan saat itu bagaikan pisau bermata dua. Dengan semakin banyaknya
kaum yang terpelajar, semakin banyak juga orang-orang yang mulai memahami
realitas yang terjadi disekitarnya, terutama di bangsanya sendiri (Hindia
Belanda). Kesempatan ini merupakan salah satu momentum yang menyadarkan kaum
muda terpelajar dari penindasan yang terjadi di Nusantara. Hal ini
mengakibatkan terbentuknya banyak perkumpulan yang dimotori oleh kaum terpelajar
dan membuka mata mereka pada saat itu tentang keadaan sebenarnya, bahwa mereka
sedang dijajah dan ditindas. Selain itu perkumpulan-perkumpulan seperti ini
juga menjadi cikal bakal embrio lahirnya kesadaran akan pentingnya persatuan
dan kesatuan, meskipun pada awalnya banyak perkumpulan-perkumpulan yang
berpatokan hanya sebatas pada faktor kesukuan, agama dan golongan. Tetapi ada
beberapa perkumpulan yang mulai tumbuh dengan sifat-sifat nasionalisme di dalam
dirinya, salah satunya adalah Boedi
Oetomo.
Awal
terbentuknya Boedi Oetomo adalah atas prakarsa Dr.Wahidin Sudiro Husodo yang seorang pensiunan dokter dan memiliki
keresahan terhadap golongan priyayi yang dianggap terlalu terpesona dalam zona
nyamannya dan enggan bergerak memperjuangkan rakyat yang terkesan nrimo (pasrah). Akhir tahun 1906,
pensiunan dokter itu bertemu dengan sekumpulan anak muda di sekolah dokter
Jawa–STOVIA dan diberi kesempatan menyampaikan gagasannya di forum “Demonstrasi
Demokrasi”. Di Forum tersebut dia berhasil untuk menggugah semangat
berorganisasi. Soetomo yang ketika
itu berumur 19 tahun, langsung tergerak. Tepatnya tanggal 20 Mei 1908, ia dan teman-temannya di STOVIA mendirikan organisasi
bernama “Boedi Oetomo”. Awalnya perkumpulan ini bersifat nasionalisme tetapi
karna mayoritas anggotanya berasal dari suku yang homogen (sejenis) dan hanya
diperuntukan bagi golongan priyayi terpelajar, lambat laun sifat nasionalisme
itu akhirnya menghilang. Dengan menghilangnya sifat nasionalisme, mereka mulai
memandang sebuah permasalahan dari sudut pandang mereka dan hanya berusaha
menyelesaikan masalah yang memang menguntungkan bagi golongannya.
Ketidakpuasan
masyarakat pada saat itu pada sistim politik etis yang hanya diperuntukan bagi
golongan priyayi, menimbulkan keresahan bagi beberapa pemuda, salah satunya
adalah Suwardi Suryaningrat atau
yang biasa dikenal dengan nama Ki Hajar
Dewantara. Setelah di selesai sekolah dan melihat keadaan saat itu, dia
mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922. Taman Siswa adalah sebuah sekolah yang diperuntukan
untuk golongan rakyat djelata, karena pada saat itu hanya golongan priyayi yang
notabennya golongan bangsawan saja yang bisa bersekolah. Jadi dengan berdirinya
Taman Siswa ini, Ki Hajar Dewantara berharap semakin banyak masyarakat yang
berpendidikan, semakin banyak juga masyarakat yang berpikiran tentang Persatuan
dan kemajuan Bangsa Indonesia. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang berpikiran tentang bangsa ini, maka akan
semakin banyak pula masyarakat yang nantinya akan berpikiran kritis dan
visioner. Mereka akan berusaha melakukan sesuatu dalam hal apapun yang memang bertujuan
untuk mensejahterakan rakyat Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan
tentunya keluar dari penindasan.
Pada
awal tahun 1920-an, banyak perkumpulan-perkumpulan yang mengatasnamakan
kesukuan, golongan dan agama yang mulai membesar massanya. Beberapa pemuda
membaca masalah ini akan sangat merugikan jika tidak ditindak lanjuti. Maka atas
inisiatif beberapa pemuda yang melihat problematika pada saat itu, timbulah
sebuah wacana kembali tentang pentingnya sifat persatuan atau nasionalisme,
lalu akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda.
Karena dengan lahirnya persatuan, mereka memiliki tujuan arah yang sama tentang
bagaimana membawa Bangsa Indonesia kedepannya, inilah awal pemikiran maju
pemuda Indonesia.
Dengan
persatuan yang menimbulkan pandangan lama (Nasionalisme) mengingatkan para pemuda
untuk memiliki pemikiran kritis dan paham pentingnya kemerdekaan. Salah satu
pemuda penggeraknya adalah Ir. Soekarno
yang nantinya menjadi Sang Bapak Proklamator Indonesia. Bersama Gatot Mangkupraja, Maskun, dan
Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan
Nasional Indonesia (PNI) mereka dituduh hendak menggulingkan kekuasaan
Hindia Belanda. Saat akan diadili, dengan berani Soekarno membacakan
sebuah pidato yang berjudul Indonesia Menggugat yang ia dibacakan
dengan semangat yang membara dalam rangka pembacaan pembelaan/pledoi
di Landraad Bandung, pada tahun 1930. Pidato itu mulai membuka mata
beberapa pemuda saat itu tentang pentingnya persatuan dan perlawanan. Meskipun
dibawah tekanan dan intervensi yang sangat berat dari Pihak Kolonial Belanda,
dia tetap memperjuangkan hak-hak masyarakat Indonesia. Hingga akhirnya usaha
Soekarno tidak sia-sia dengan merdekanya Indonesia pada tahun 1945.
Dilihat
dari uraian diatas, peran pemuda khususnya mahasiswa menjadi sangat krusial dan
penting. Para pemuda khususnya mahasiswa yang dahulu berperan aktif dan
berinisiatif dalam merubah arah bangsa menjadi merdeka dan lepas dari
penindasan kini terasa hilang taringnya. Realitas yang terjadi sekarang sangat
jauh berbeda dengan jaman-jaman awal pergerakan bangsa. Mahasiswa saat ini
terlena dengn dunianya saja tanpa melihat sedikitpun tentang situasi dan
persoalan yang terjadi di masarakyat diluar sektor mahasiswa. Mengapa mahasiswa
sekarang seakan lupa dengan jati dirinya, lupa akan perannya dan lupa akan
fungsi mereka sebenarnya? Mereka jusru melibatkan diri mereka dalam organisasi
atau perkumpulan yang bersifat suku, golongan dan agama. Padahal poin yang
paling penting dalam mendasarii lahirnya kemerdekaan adalah persatuan. Terjadi
pengulangan pola yang sama seperti saat jaman Boedi Oetomo dimana mereka masih
saja berpikir melalui sudut pandang suku, golongan dan agama.
Selain
itu, faktor mahasiswa yang dituntut untuk lulus 4 tahun juga menjadi salah satu
penyebab mahasiswa mulai melupakan kepekaan pada lingkungan seperti pemuda
jaman dulu. Mereka mulai terdoktrin agar secepatnya mendapatkan pekerjaan, mulai
malas berpikir tentang keadaan disekitarnya, dan mengabaikan pentingnya pembentukan
nilai-nilai kepekaan sosial dalam dirinya. Lagi-lagi terjadi pola pengulangan
sejarah. Seperti keadaan saat pihak Kolonial Belanda memberlakukan sistem
politik etis, dimana pendidikan hanyalah sebuah pintu masuk untuk mendapatkan
pekerjaan sebagai bawahan di perusahaan Kolonial Belanda. Orientasi kuliah
berubah bukan atas dasar mencari ilmu lagi tetapi mencari pekerjaan. Faktor
diatas tersebut pada akhirnya berhasil membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang
cenderung apatis terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya. Mahasiswa yang
cenderung masuk zona nyaman mulai meninggalkan kepekaan dan jiwa kritis mereka
terhadap keadaan disekitar mereka.
Apakah
kita sebagai penggerak bangsa akan terus acuh tak acuh terhadap keadaan bangsa
dan masyarakat disekitar kita, bahkan cenderung berpikir sempit.. Padahal keberanian Soekarno bersama
teman-temannya yang tidak memikirkan diri sendiri ataupun golongan dan tetap memilih
memperjuangkan masyarakat dan bangsa merupakan sebuah pola pikir yang harusnya
dijadikan dasar pemikiran dan wajib dimiliki seorang mahasiswa sebagai golongan
kaum yang katanya terdidik tapi justru saat ini mahasiswa hilang arah dan lepas
kendali, mundur kebelakang menjadi kaum yang terisolasi dengan masarakyatnya.
Jika kita tetap seperti ini, maka bagaimana arah bangsa kita kedepannya? Karena
kaum perubah saat ini telah menjadi kaum yang terlena dan hilang dari
masarakyatnya. Sebuah pertanyaan yang harus kita renungi bersama-sama. (diambil dari Selebaran Kelompok Belajar Mahasiswa FSB Udayana)