Rabu, 15 Januari 2014

Selamat Hari Kebangkitan Nasional


Selamat Hari Kebangkitan Nasional

Salah satu faktor yang mendorong munculnya pergerakan-pergerakan di Indonesia salah satunya dikarenakan diberlakukannya politik etis oleh pihak Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Tujuan dari politik etis sendiri adalah untuk mendapatkan tenaga pekerja terdidik yang murah, dengan cara memberikan pendidikan kepada kaum bangsawan atau priyayi. Mereka dibentuk untuk menjadi kuli tinta pada berbagai perusahaan swasta Belanda. Tetapi pendidikan saat itu bagaikan pisau bermata dua. Dengan semakin banyaknya kaum yang terpelajar, semakin banyak juga orang-orang yang mulai memahami realitas yang terjadi disekitarnya, terutama di bangsanya sendiri (Hindia Belanda). Kesempatan ini merupakan salah satu momentum yang menyadarkan kaum muda terpelajar dari penindasan yang terjadi di Nusantara. Hal ini mengakibatkan terbentuknya banyak perkumpulan yang dimotori oleh kaum terpelajar dan membuka mata mereka pada saat itu tentang keadaan sebenarnya, bahwa mereka sedang dijajah dan ditindas. Selain itu perkumpulan-perkumpulan seperti ini juga menjadi cikal bakal embrio lahirnya kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan, meskipun pada awalnya banyak perkumpulan-perkumpulan yang berpatokan hanya sebatas pada faktor kesukuan, agama dan golongan. Tetapi ada beberapa perkumpulan yang mulai tumbuh dengan sifat-sifat nasionalisme di dalam dirinya, salah satunya adalah Boedi Oetomo.
Awal terbentuknya Boedi Oetomo adalah atas prakarsa Dr.Wahidin Sudiro Husodo yang seorang pensiunan dokter dan memiliki keresahan terhadap golongan priyayi yang dianggap terlalu terpesona dalam zona nyamannya dan enggan bergerak memperjuangkan rakyat yang terkesan nrimo (pasrah). Akhir tahun 1906, pensiunan dokter itu bertemu dengan sekumpulan anak muda di sekolah dokter Jawa–STOVIA dan diberi kesempatan menyampaikan gagasannya di forum “Demonstrasi Demokrasi”. Di Forum tersebut dia berhasil untuk menggugah semangat berorganisasi. Soetomo yang ketika itu berumur 19 tahun, langsung tergerak. Tepatnya tanggal 20 Mei 1908, ia dan teman-temannya di STOVIA mendirikan organisasi bernama “Boedi Oetomo”. Awalnya perkumpulan ini bersifat nasionalisme tetapi karna mayoritas anggotanya berasal dari suku yang homogen (sejenis) dan hanya diperuntukan bagi golongan priyayi terpelajar, lambat laun sifat nasionalisme itu akhirnya menghilang. Dengan menghilangnya sifat nasionalisme, mereka mulai memandang sebuah permasalahan dari sudut pandang mereka dan hanya berusaha menyelesaikan masalah yang memang menguntungkan bagi golongannya.
Ketidakpuasan masyarakat pada saat itu pada sistim politik etis yang hanya diperuntukan bagi golongan priyayi, menimbulkan keresahan bagi beberapa pemuda, salah satunya adalah Suwardi Suryaningrat atau yang biasa dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Setelah di selesai sekolah dan melihat keadaan saat itu, dia mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922. Taman Siswa adalah sebuah sekolah yang diperuntukan untuk golongan rakyat djelata, karena pada saat itu hanya golongan priyayi yang notabennya golongan bangsawan saja yang bisa bersekolah. Jadi dengan berdirinya Taman Siswa ini, Ki Hajar Dewantara berharap semakin banyak masyarakat yang berpendidikan, semakin banyak juga masyarakat yang berpikiran tentang Persatuan dan kemajuan Bangsa Indonesia. Dengan semakin banyaknya masyarakat  yang berpikiran tentang bangsa ini, maka akan semakin banyak pula masyarakat yang nantinya akan berpikiran kritis dan visioner. Mereka akan berusaha melakukan sesuatu dalam hal apapun yang memang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan tentunya keluar dari penindasan.
Pada awal tahun 1920-an, banyak perkumpulan-perkumpulan yang mengatasnamakan kesukuan, golongan dan agama yang mulai membesar massanya. Beberapa pemuda membaca masalah ini akan sangat merugikan jika tidak ditindak lanjuti. Maka atas inisiatif beberapa pemuda yang melihat problematika pada saat itu, timbulah sebuah wacana kembali tentang pentingnya sifat persatuan atau nasionalisme, lalu akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda. Karena dengan lahirnya persatuan, mereka memiliki tujuan arah yang sama tentang bagaimana membawa Bangsa Indonesia kedepannya, inilah awal pemikiran maju pemuda Indonesia.
Dengan persatuan yang menimbulkan pandangan lama (Nasionalisme) mengingatkan para pemuda untuk memiliki pemikiran kritis dan paham pentingnya kemerdekaan. Salah satu pemuda penggeraknya adalah Ir. Soekarno yang nantinya menjadi Sang Bapak Proklamator Indonesia. Bersama Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) mereka dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Saat akan diadili, dengan berani Soekarno membacakan sebuah pidato yang berjudul Indonesia Menggugat yang ia dibacakan dengan semangat yang membara dalam rangka pembacaan pembelaan/pledoi  di Landraad Bandung, pada tahun 1930. Pidato itu mulai membuka mata beberapa pemuda saat itu tentang pentingnya persatuan dan perlawanan. Meskipun dibawah tekanan dan intervensi yang sangat berat dari Pihak Kolonial Belanda, dia tetap memperjuangkan hak-hak masyarakat Indonesia. Hingga akhirnya usaha Soekarno tidak sia-sia dengan merdekanya Indonesia pada tahun 1945.
Dilihat dari uraian diatas, peran pemuda khususnya mahasiswa menjadi sangat krusial dan penting. Para pemuda khususnya mahasiswa yang dahulu berperan aktif dan berinisiatif dalam merubah arah bangsa menjadi merdeka dan lepas dari penindasan kini terasa hilang taringnya. Realitas yang terjadi sekarang sangat jauh berbeda dengan jaman-jaman awal pergerakan bangsa. Mahasiswa saat ini terlena dengn dunianya saja tanpa melihat sedikitpun tentang situasi dan persoalan yang terjadi di masarakyat diluar sektor mahasiswa. Mengapa mahasiswa sekarang seakan lupa dengan jati dirinya, lupa akan perannya dan lupa akan fungsi mereka sebenarnya? Mereka jusru melibatkan diri mereka dalam organisasi atau perkumpulan yang bersifat suku, golongan dan agama. Padahal poin yang paling penting dalam mendasarii lahirnya kemerdekaan adalah persatuan. Terjadi pengulangan pola yang sama seperti saat jaman Boedi Oetomo dimana mereka masih saja berpikir melalui sudut pandang suku, golongan dan agama.
Selain itu, faktor mahasiswa yang dituntut untuk lulus 4 tahun juga menjadi salah satu penyebab mahasiswa mulai melupakan kepekaan pada lingkungan seperti pemuda jaman dulu. Mereka mulai terdoktrin agar secepatnya mendapatkan pekerjaan, mulai malas berpikir tentang keadaan disekitarnya, dan mengabaikan pentingnya pembentukan nilai-nilai kepekaan sosial dalam dirinya. Lagi-lagi terjadi pola pengulangan sejarah. Seperti keadaan saat pihak Kolonial Belanda memberlakukan sistem politik etis, dimana pendidikan hanyalah sebuah pintu masuk untuk mendapatkan pekerjaan sebagai bawahan di perusahaan Kolonial Belanda. Orientasi kuliah berubah bukan atas dasar mencari ilmu lagi tetapi mencari pekerjaan. Faktor diatas tersebut pada akhirnya berhasil membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang cenderung apatis terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya. Mahasiswa yang cenderung masuk zona nyaman mulai meninggalkan kepekaan dan jiwa kritis mereka terhadap keadaan disekitar mereka.

Apakah kita sebagai penggerak bangsa akan terus acuh tak acuh terhadap keadaan bangsa dan masyarakat disekitar kita, bahkan cenderung berpikir sempit.. Padahal keberanian Soekarno bersama teman-temannya yang tidak memikirkan diri sendiri ataupun golongan dan tetap memilih memperjuangkan masyarakat dan bangsa merupakan sebuah pola pikir yang harusnya dijadikan dasar pemikiran dan wajib dimiliki seorang mahasiswa sebagai golongan kaum yang katanya terdidik tapi justru saat ini mahasiswa hilang arah dan lepas kendali, mundur kebelakang menjadi kaum yang terisolasi dengan masarakyatnya. Jika kita tetap seperti ini, maka bagaimana arah bangsa kita kedepannya? Karena kaum perubah saat ini telah menjadi kaum yang terlena dan hilang dari masarakyatnya. Sebuah pertanyaan yang harus kita renungi bersama-sama. (diambil dari Selebaran Kelompok Belajar Mahasiswa FSB Udayana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar