Rabu, 15 Januari 2014

Perlunya Penerapan Hukum Dialektika dalam Pola Berfikir Mahasiswa

Perlunya Penerapan Hukum Dialektika dalam Pola Berfikir Mahasiswa
Dialektis atau Dialektika adalah cara pandang sesuatu dalam proses geraknya bukan pada keadaan diamnya. Perbedaan mendasar perbedaan antara logika dan dialektika yaitu jika dalam logika A sama dengan A dan A bukan sama dengan non A, jika dialektika A sama dengan A dan A itu boleh non A. Salah satu hal yang tidak bisa dijelaskan dalam berfikir logika adalah waktu, karna waktu selalu bergerak. Ketika muncul pertanyaan apakah Einstein itu pintar? Jika kita menjawab dengan kerangka logika kita akan menjawab iya, tetapi jika kita memperhitungkan waktu maka kita bisa menjawab bisa iya bisa tidak, mengapa demikian, karna pada saat Einstein kecil dia dikatakan bodoh oleh semua orang, sedangkan ketika dia dewasa dia pintar. Maka dari pertanyaan diatas dapat dilihat jika tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan logika. Dapat disimpulkan bahwa dialektika adalah cara berpikir gerak benda.
Dalam dialektika terdapat 3 hukum dasar yaitu:
a.       Perubahan dari kuantitas menjadi kualitas
b.      Adanya kutub berlawanan yang saling merasuki
c.       Negasi dari Negasi (Tesis – AntiTesis = Sintesis = Tesis – AntiTesis = Sintesis)
Contoh hukum pertama dialektika, ketika dalam satu kelompok belajar mahasiswa memiliki 5 orang anggota dan mereka mengerjakan tugas kelompok selalu mendapatkan nilai C, ketika mereka menambah 2 anggota lagi dan menjadi 7 anggota tetap tidak terjadi perubahan pada nilai mereka, lalu kelompok belajar mahasiswa itu bertambah dalam hal ini bertambah 2 orang yang sangat cerdas dan rajin yang merubah kuantitas mereka menjadi 9 anggota, tugas kelompok mereka berikutnya menjadi A. Jika ditarik kesimpulan maka perubahan itu tidak selalu garis lurus tetapi dalam beberapa hal penambahan kuantitas dapat mempengaruhi pola perubahan yang semula garis lurus menjadi mengalami lompatan yang signifikan atau bisa dikatakan sebagai revolusi.
Contoh hukum kedua dialektika adalah ketika abad kegelapan eropa manusia berfikir bahwa matahari berputar mengitari bumi, itu adalah pemikiran umum yang dipercayai oleh mayoritas masyarakat eropa pada saat itu. Tetapi ada seseorang yang bernama Copernicus mengatakan bahwa bumi berputar mengitari matahari, dan notabenenya pemikiran dia sangat berlawanan dengan pemikiran mayoritas saat masyarakat saat itu. Gagasan Copernicus menimbulkan perdebatan panjang yang pada akhirnya menemukan hasil bahwa bumi berputar mengitari matahari dan gagasan itu menjadi pemikiran baru yang diikuti oleh masyarakat eropa sampai saat ini. Jadi revolusi pemikiran tidak akan terjadi tanpa adanya pemikiran baru (kontradiksi) yang akan merasuki pemikiran lama kita.
 Contoh hukum ketiga dialektika adalah pertumbuhan siklus padi, dimana dari biji terus menjadi padi kecil lalu menjadi padi kembali lalu padi tersebut menghasilka biji padi. Biji tersebut lalu jatuh ketanah dan tumbuh menjadi padi kecil lagi. Sekilas memang terlihat tidak ada yang berubah dalam siklus pertumbuhan padi tersebut, padahal pada padi generasi kedua terjadi peningkatan kualitas biji padi itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karna adanya adaptasi dan kualitas kandungan mineral pada tanah yang bertambah. Dapat di rumuskan seperti biji padi (tesis) lalu di negasikan atau berubah menjadi padi dewasa (anti tesis) lalu menghasilkan padi kembali (sintesis) nanti akan di negasikan lagi. Jadi pola perkembangan ini meskipun terlihat terus ternegasi dengan kontradiksi-kontradiksi dan terlihat sama saja,  tetapi pada hakikatnya pola perkembangan ini mengalami penambahan sifat dan mengalami bentuk pola perkembangan yang terus dipertahankan pada saat yang sama.
                Pola berfikir dialektika ini harusnya dimiliki mahasiswa, karna jika melihat dari hukum pertama, dalam mencari ilmu dia akan mampu menerapkan istilah “one man revolution” atau dia akan menempatkan dirinya sebagai pelopor untuk merubah pola pandang teman-teman mahasiswa disekitarnya. Karna penambahan satu manusia saja mampu membawa perubahan pola pemikiran banyak manusia.  Hukum kedua, dia akan berfikir bahwa pentingnya kelompok diskusi yang akan saling menambah wawasan keilmuannya, karna dalam diskusi pasti akan ada yang menjadi kontradiksi. Lalu mereka akan belajar dan mengkaji ulang teori yang diberikan dari kampus dalam kelompok diskusi tersebut dan menciptakan teori baru. Hukum ketiga, dia akan berfikir bahwa diskusi-diskusi itu meskipun akan menghasilkan teori-teori yang kelihatannya sama saja, tetapi tiap-tiap teori itu mewarisi sifat-sifat dari anti-teori yang di hasilkan dari diskusi-diskusi sebelumnya. Jadi meskipun kelihatan tidak ada perubahan secara mendasar sebenarnya mengalami perubahan yang tidak terlihat. Contoh rumusnya A di negasikan dengan B akan menjadi A’ atau B’.
            Jadi intinya pola pemikiran dialektika adalah pola pemikiran yang akan membawa tiap-tiap individu untuk bersifat kritis yang akhirnya akan melakukan perubahan-perubahan disekitarnya. Jika kita hanya berfikir logika, kita tidak akan pernah menanyakan segala hal, karna A adalah A, bukan non A. Pola berfikir logika hanya akan menciptakan robot-robot baru bertubuh manusia yang akan menerima teori-teori yang didapatnya di kampus tanpa mengkaji ulang. Untuk menciptakan manusia-manusia yang berfikiran kritis, pola pemikiran ini mutlak harus dimiliki tiap-tiap mahasiswa, karna mahasiswa adalah individu-individu yang mampu berfikir kritis, untuk merubah arah bangsa ke jalan yang lebih baik.

Fiqri Muliathoha Tuanaya, Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Udayana 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar