Perlunya Penerapan Hukum Dialektika
dalam Pola Berfikir Mahasiswa
Dialektis atau
Dialektika adalah cara pandang sesuatu dalam proses geraknya bukan pada keadaan
diamnya. Perbedaan mendasar perbedaan antara logika dan dialektika yaitu jika
dalam logika A sama dengan A dan A bukan sama dengan non A, jika dialektika A
sama dengan A dan A itu boleh non A. Salah satu hal yang tidak bisa dijelaskan
dalam berfikir logika adalah waktu, karna waktu selalu bergerak. Ketika muncul
pertanyaan apakah Einstein itu pintar? Jika kita menjawab dengan kerangka
logika kita akan menjawab iya, tetapi jika kita memperhitungkan waktu maka kita
bisa menjawab bisa iya bisa tidak, mengapa demikian, karna pada saat Einstein
kecil dia dikatakan bodoh oleh semua orang, sedangkan ketika dia dewasa dia
pintar. Maka dari pertanyaan diatas dapat dilihat jika tidak semua pertanyaan
bisa dijawab dengan logika. Dapat disimpulkan bahwa dialektika adalah cara
berpikir gerak benda.
Dalam dialektika
terdapat 3 hukum dasar yaitu:
a.
Perubahan
dari kuantitas menjadi kualitas
b.
Adanya
kutub berlawanan yang saling merasuki
c.
Negasi
dari Negasi (Tesis – AntiTesis = Sintesis = Tesis – AntiTesis = Sintesis)
Contoh hukum pertama dialektika, ketika dalam
satu kelompok belajar mahasiswa memiliki 5 orang anggota dan mereka mengerjakan
tugas kelompok selalu mendapatkan nilai C, ketika mereka menambah 2 anggota
lagi dan menjadi 7 anggota tetap tidak terjadi perubahan pada nilai mereka,
lalu kelompok belajar mahasiswa itu bertambah dalam hal ini bertambah 2 orang
yang sangat cerdas dan rajin yang merubah kuantitas mereka menjadi 9 anggota,
tugas kelompok mereka berikutnya menjadi A. Jika ditarik kesimpulan maka
perubahan itu tidak selalu garis lurus tetapi dalam beberapa hal penambahan
kuantitas dapat mempengaruhi pola perubahan yang semula garis lurus menjadi
mengalami lompatan yang signifikan atau bisa dikatakan sebagai revolusi.
Contoh hukum kedua dialektika adalah ketika
abad kegelapan eropa manusia berfikir bahwa matahari berputar mengitari bumi,
itu adalah pemikiran umum yang dipercayai oleh mayoritas masyarakat eropa pada
saat itu. Tetapi ada seseorang yang bernama Copernicus mengatakan bahwa bumi
berputar mengitari matahari, dan notabenenya pemikiran dia sangat berlawanan
dengan pemikiran mayoritas saat masyarakat saat itu. Gagasan Copernicus
menimbulkan perdebatan panjang yang pada akhirnya menemukan hasil bahwa bumi
berputar mengitari matahari dan gagasan itu menjadi pemikiran baru yang diikuti
oleh masyarakat eropa sampai saat ini. Jadi revolusi pemikiran tidak akan
terjadi tanpa adanya pemikiran baru (kontradiksi) yang akan merasuki pemikiran
lama kita.
Contoh hukum
ketiga dialektika adalah pertumbuhan siklus padi, dimana dari biji terus
menjadi padi kecil lalu menjadi padi kembali lalu padi tersebut menghasilka
biji padi. Biji tersebut lalu jatuh ketanah dan tumbuh menjadi padi kecil lagi.
Sekilas memang terlihat tidak ada yang berubah dalam siklus pertumbuhan padi
tersebut, padahal pada padi generasi kedua terjadi peningkatan kualitas biji
padi itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karna adanya adaptasi dan kualitas
kandungan mineral pada tanah yang bertambah. Dapat di rumuskan seperti biji
padi (tesis) lalu di negasikan atau berubah menjadi padi dewasa (anti tesis)
lalu menghasilkan padi kembali (sintesis) nanti akan di negasikan lagi. Jadi
pola perkembangan ini meskipun terlihat terus ternegasi dengan
kontradiksi-kontradiksi dan terlihat sama saja, tetapi pada hakikatnya pola perkembangan ini
mengalami penambahan sifat dan mengalami bentuk pola perkembangan yang terus
dipertahankan pada saat yang sama.
Pola
berfikir dialektika ini harusnya dimiliki mahasiswa, karna jika melihat dari hukum pertama, dalam mencari ilmu dia
akan mampu menerapkan istilah “one man revolution” atau dia akan menempatkan
dirinya sebagai pelopor untuk merubah pola pandang teman-teman mahasiswa
disekitarnya. Karna penambahan satu manusia saja mampu membawa perubahan pola
pemikiran banyak manusia. Hukum kedua, dia akan berfikir bahwa
pentingnya kelompok diskusi yang akan saling menambah wawasan keilmuannya,
karna dalam diskusi pasti akan ada yang menjadi kontradiksi. Lalu mereka akan belajar
dan mengkaji ulang teori yang diberikan dari kampus dalam kelompok diskusi
tersebut dan menciptakan teori baru. Hukum
ketiga, dia akan berfikir bahwa diskusi-diskusi itu meskipun akan
menghasilkan teori-teori yang kelihatannya sama saja, tetapi tiap-tiap teori
itu mewarisi sifat-sifat dari anti-teori yang di hasilkan dari diskusi-diskusi
sebelumnya. Jadi meskipun kelihatan tidak ada perubahan secara mendasar
sebenarnya mengalami perubahan yang tidak terlihat. Contoh rumusnya A di
negasikan dengan B akan menjadi A’ atau B’.
Jadi
intinya pola pemikiran dialektika adalah pola pemikiran yang akan membawa
tiap-tiap individu untuk bersifat kritis yang akhirnya akan melakukan
perubahan-perubahan disekitarnya. Jika kita hanya berfikir logika, kita tidak
akan pernah menanyakan segala hal, karna A adalah A, bukan non A. Pola berfikir
logika hanya akan menciptakan robot-robot baru bertubuh manusia yang akan
menerima teori-teori yang didapatnya di kampus tanpa mengkaji ulang. Untuk
menciptakan manusia-manusia yang berfikiran kritis, pola pemikiran ini mutlak
harus dimiliki tiap-tiap mahasiswa, karna mahasiswa adalah individu-individu
yang mampu berfikir kritis, untuk merubah arah bangsa ke jalan yang lebih baik.
Fiqri
Muliathoha Tuanaya,
Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas
Udayana 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar